Tampilkan postingan dengan label My Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Inspiration. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Parah

http://homehow.net/wp-content/uploads/2010/04/White-Beach-Home-Design-with-Small-Garden-l-Library-Room.jpg 
http://homehow.net/wp-content/uploads/2010/04/White-Beach-Home-Design-with-Small-Garden-l-Library-Room.jpg

Percuma rajin beli buku kalau cuma untuk dikoleksi, bukan untuk dibaca.

Rasanya inilah penyakit yang terparah pada diriku di awal tahun ini.
Berharap penyakit yang satu ini cepat sembuh.

Padang, 16 januari 2013

Bukan Mencinta

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTos9gqPGLIup0RnHsyMXBTyiHAXc2dyV__HXuEbSff0rzTCrfQBlgBM-Ce52WKEi0k4rARh3qB_LLUw5lHLNc4Yg4qmmKqI8eyzvsSGXrOXYbVS86umyT7YCZ-_xtQbU1JzCL3oeYxiq7/s1600/gombal+3.png 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTos9gqPGLIup0RnHsyMXBTyiHAXc2dyV__HXuEbSff0rzTCrfQBlgBM-Ce52WKEi0k4rARh3qB_LLUw5lHLNc4Yg4qmmKqI8eyzvsSGXrOXYbVS86umyT7YCZ-_xtQbU1JzCL3oeYxiq7/s1600/gombal+3.png
 
Kau bukan mencinta,
Tapi berdusta,
Kau pikir aku akan tersipu,
 dibalik kata-kata manismu?
Tidak!!
Kecuali engkau halal bagiku

Sering kita terjebak pada buaian kata. Kata yang keluar dari mulut sang Adam kepada si Hawa. "Gombal" itu memang manis kedengarannya. Terlebih bagi wanita. Namun, sungguh sayang seribu kali sayang jikalau "gombal" bukanlah pada tempatnya.

Apalah daya, Akupun tak luput dari nista.
Namun, hanya mencoba untuk berkaca.
Berharap akan memantulkan sosok yang indah.

BERBENAH

http://thumbs.dreamstime.com/thumblarge_500/1272631270Mk5MbY.jpg 
http://thumbs.dreamstime.com/thumblarge_500/1272631270Mk5MbY.jpg 
  

Berbenah

 Di kaki lima pasar raya sana, 
Di rumah makan,
Tak jarang kutemukan "lanjut usia,"
Meminta-minta,

Hanya simpati,
Sehingga penaku berkata,
Bukan memuji apalagi mencela,
Bukan keduanya,

Hanya simpati,
Sebatas itu saja,

Tak ada bukti nyata,
Hanya simpati,

Terkadang ku bertanya,
Ini salah aku atau dia?
Atau bahkan mereka?
Entahlah,
Tak ingin mencari siapa salah siapa benar,

Namun, bagaimana cara mengubahnya?
Tulangku rapuh,
Diriku pun lusuh,

Seribu tanda tanya,
Hanya satu jawaban:"aku harus berbenah,"

Padang, 15 Januari 2012


Selasa, 08 Januari 2013

The fair of failure

"There is only one thing that makes dream impossible to be achive: the fair of failure"
-Paulo Coelho-
 
Sabtu lalu tanggal 5 Januari 2013 aku iseng-iseng coba ngirim tulisan ke salah satu koran lokal. Niat awalnya sih cuma mau nguji nyali aja. But, alhamdulillah hari minggunya tanggal 6 Januari 2013 ada sebuah SMS masuk ke inboxku memberitakan bahwa tulisanku di cetak halaman sekian. Wow, gak nyangka...akhirnya aku punya nama pena juga... Nice try then :)

Sebenarnya sudah lama sih aku ingin coba ngirim tulisan ke media cetak. Namun, aku masih kurang PD aja dengan gaya dan bahasa tulisanku. Banyak andai-andainya... kalau seandainya tulisanku jelek gimana? kalau seandainya tulisanku langsung ditolak mentah-mentah gimana?. Ya, akhirnya keinginanku itu hanya menjadi mimpi-mimpi belaka. Begitupun dengan tulisan-tulisanku hanya berakhir di lembaran-lembaran kertas-kertas buram atau terselip di bagian buku catatan atau bahkan di folder-folder yang tak tahu entah dimana letaknya.

At least, minggu kemaren aku belajar bahwa terkadang ketakutan akan gagallah yang menghambat kita untuk meraih sesuatu. Belum mencoba sudah mundur. Bak sebuah pepatah "mundur sebelum perang". Yup, mana mungkin kita tahu kalah apa gak kalau belum dicoba?? bukankah kalah atau menang itu adalah segala sesuatu yang lumrah? bukankah yang paling penting itu adalah prosesnya? Ah... Mudah-mudahan penyakit mundur sebelum perang ini gak selama-lamanya bersemayam dijiwaku.    

Padang, 8 Januari 2013



Minggu, 06 Januari 2013

Sirah Nabawiyah

Apa kabar teman :)

Mudah-mudahan sehat selalu ya :)

Hm... Aku mau merekomendasikan buku yang bagus dan harus dibaca nih.

Yup,,,

Sirah Nabawiyah.

Mudah-mudahan dengan membaca buku ini kecintaan kita kepada Rasulullah semakin bertambah.

Silahkan dilirik-lirik dulu... mudah-mudahan tertarik untuk membacanya.
Gak bakalan rugi deh, Insyaallah.

1. Cover depan. Buku ini dikarang oleh Syeikh Syaifiyurrahman Al-Mubarakfuri
 


 

















Sebagai bahan pertimbangan mengapa aku merekomendasikan buku ini:

1. Penulisnya adalah orang yang "insyaallah" terpercaya. Buku Sirah Nabawiya yang dikarang oleh Syeikh Syaifiyurrahman Al-Mubarakfuri ini adalah hasil karya beliau yang menang lomba penulisan As-sirah an-nabawiyah pada tahun 1396 H.

2. Penuturan penulis dalam menceritakan sirah Nabi tidaklah kaku (mudah dipahami) Insyaallah.

3.Dilengkapi dengan hadist atau ayat-ayat al-qur'an.

4. Dilengkapi dengan peta sehingga memudahkan kita untuk mem visulisais kan nya.























5. Garis keturunan Rasulullah dilengkapi dengan peta konsep sehingga membuat kita sebagai pembaca memahami secara rinci garis keturunan Nabi.

















Hm... apa lagi ya? 

Secara garis besar sepertinya itu aja dulu ya teman. 

Catatan: Buku ini adalah cetakan ketiga yang dilengkapai dengan "atlas perjalanan Nabi Muhammad". Jikalau kita lihat buku Syeikh Syaifiyurrahman Al-Mubarakfuri yang terdahulu tidak ditemui adanya peta perjalanan Nabi. 

Ini dia buku  Syeikh Syaifiyurrahman Al-Mubarakfuri yang sebelumnya. Aku juga pernah baca yang ini. Baguslah... cuma bagi orang-orang sepertiku yang mem visualisasi kan segala sesuatu seprtinya menemukan kebosanan ketika membacanya. But, overall bagus banget deh bukunya teman.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjesCIyRsUsikxhnCTtO4q_yuCsaHVdPLU8Q6Fw4kY39bHZkSbh5L8V0bThSYMSuWCk1CvQO0GAzDAMeL3wBvTgVbNCVdPjgPBIrKdZ9glbxJnmfF3gztR6_jM8BZFaem6hkd_ErJKEf8E/s1600/sirah-nabawiyah-mubarakfuri.jpg
* Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjesCIyRsUsikxhnCTtO4q_yuCsaHVdPLU8Q6Fw4kY39bHZkSbh5L8V0bThSYMSuWCk1CvQO0GAzDAMeL3wBvTgVbNCVdPjgPBIrKdZ9glbxJnmfF3gztR6_jM8BZFaem6hkd_ErJKEf8E/s1600/sirah-nabawiyah-mubarakfuri.jpg

Kamis, 27 Desember 2012

Zemburat Jingga

Lampu-lampu mulai menerangi sisi gelap jalanan. Pintu-pintu rumah penduduk satu-persatu mulai tertutup. Setiap orang yang melewati jalan ini berjalan dengan penuh keterburu-buruan. Bak dikejar hantu. Begitulah aku melihatnya. Sebentar lagi, zemburat jingga di ufuk barat sana bakal berganti dengan warna kelam kelabu. Sungguh perpaduan warna yang indah. Jinga, biru dan putih bersatu membentuk perpaduan warna yang harmonis. Ah... syukurlah hari ini aku masih bisa menatap indahnya lukisan alam ini. Ucapku penuh kesyurkuran di dalam hati.

Namun, tampaknya aku adalah sebuah kutub magnet yang berlawanan jika diibaratkan dengan orang-orang yang berjalan dengan penuh keterburuan bak dikejar hantu itu. Aku, langkahku, malah melambat bak siput berjalan. Melongo, terpesona, entah apalah namanya, ketika menyaksikan keindahan perpaduan warna di ufuk barat sana. Agaknya bukan aku saja yang tersihir oleh keindahan alam itu. Seorang teman yang berjalan disampingku tengah menyandang tas ransel hitam ternyata juga tengah menyaksikannya dengan seksama.




 "Eh, coba lihat awan yang itu deh. Mirip kelinci kan?" Kataku membuka pembicaraan. Kemudian diapun melihat awan yang ku tunjuk itu. Selanjutnya diapun menimpali.


"yang di sebelahnya mirip kuda, coba deh kamu lihat".



"oh... iya". jawabku membenarkan tebakannya. Kuperhatikan sepertinya dia makin bersemangat dengan permainan tebak-tebakan ini. Dapat ku lihat dari senyuman tipis yang tersungging dari bibirnya.

"Dulu, waktu aku masih kecil, aku sering bermain tebak-tebakan bentuk awan ini dengan kakakku". Imbuhku, ketika dia lagi sibuk-sibuknya berusaha menemukan gambar-gambar yang dilukis oleh onggokan awa-awan itu.


"benarkah? tanyanya dengan penuh keingin tahuan. "pasti menyenangkan ya?" katanya lagi.

"hu uh, jawabku"

"eh... coba deh lihat awan yang tepat diatas kepalamu itu, bukankah itu mirip TOGA?" kataku.

"mana, yang beneran aja deh kamu" katanya setengah tidak percaya.

"hahaha... beneran" kataku kepadanya sambil tertawa dengan lepas. Raut mungkanya mulai berubah sumringah seolah-olah tak percaya bahwa ternyata awanpun bisa membentuk gambar TOGA.

"itu berarti sebuah pertanda loh bahwa awanpun juga mendo'akan kamu biar kamu cepat wisuda, maret 2013  menunggu" kataku padanya. Ku perhatikan lagi. Kudapati wajahnya penuh dengan semangat. Kemudian dia menunjuk kesebelah kirinya. "nah, lihat yang itu, bukankah awannya mirip benua EROPA" imbuhnya kepadaku.

"ah, mana? ngasal deh kamu" jawabku tak percaya.

"bebeneran... dan kamu tahu artinya apa? ternyata awanpun juga mendo'akan kamu bisa lanjut s2 ke sana"

"Amiiiin... "jawabku.

Kamipun tertawa dengan begitu lepas. Dan untung saja tak ada satupun orang yang berjalan disekitar kami saat itu. Azan maghrib sudah berkumandang kamipun semakin mempercepat langkah yang tadinya melambat.

"kejar aku" kataku padanya.

"oke" jawabnya penuh semangat.

Kamipun saling kejar-kejaran menuju Masjid terdekat untuk melaksanakan shalat. Sungguh senja yang indah.

NOTE:
Cerita diatas hanyalah imaginasi dariku ketika tengah menyaksikan indahnya lukisan alam disore  hari. Beberapa menit menjelang maghrib.

Padang, 26 Desember 2012
Keika sang raja siang sudah mulai berlabuh keperadunnya dan digantika oleh raja malam yang penuh dengan kegelapan dan kedamaiannya itu. 

Sumber gambar:
1. http://pcdn.500px.net/6896456/1e1c39ba22c81af9869bfc69239d07ceb307762c/3.jpg
2. https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQlsK1BJePbUkpfYEjdkYf9g-MJnxFv5EiiUlTh8rrAm-ptHUpREQ
3. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcN5AZVbgr2rEzxkKmfohhRLTBGL_d85N8mx3k3k3lWRRijXQaLhrSX46V5e0BRTQwryulEfeldNc0iTQmujZNL7N9x_CpBdHty8mMuL4ZF2PqeN35C71p8R0Dn2f72YdZGvj9_pQs1wc/s1600/awan_kuda.jpg

Rabu, 26 Desember 2012

Random 1

Sore tadi aku menyempatkan diri ke Gramedia dengan niat pengen beli buku sekaligus refreshing. Selalu, hal yang ku suka berada di sini adalah bau buku. Eits... tunggu dulu, tak seperti biasanya sore ini pengunjung begitu ramai. Mungkin karena hari libur kali ya?. Ada yang pergi dengan keluarga, teman, pasangan, dan ada juga yang sendirian seperti aku. Hehehe...but I enjoy it actually.
 ***
Seorang anak laki-laki SD berdiri desebelah rak buku bertuliskan buku baru setengah berteriak kepada Ayahnya tengah mencuri perhatianku. Oh, ternyata dia pergi bersama Ayah dan Ibunya, dan dua orang adek perempuannya. "Ayah, kesini dong yah, ada buku bagus ni" ucapnya kepada sang Ayah yang berada di seberangnya. Begitu bersemangatnya dia menunjukkan buku yang dibilang bagus itu kepada Ayahnya. Selanjutnya, pandanganku tertuju lagi kepada tumpukan-tumpukan buku yang berjejer manis didepanku itu. 

Ah... lagi-lagi sebuah fikiran random muncul dibenakku. Betapa harmonisnya pemandangan yang ku lihat barusan. Ucapku pada dalam hati. Teman, kurasa kau juga setuju denganku bukan? Eh... bukankah menurutmu dengan mengajak anak-anak mereka ke toko buku secara tidak langsung kedua orang tua tadi tengah membudayakan kebiasaan membaca kepada putra-putrinya? Ya, aku setuju denganmu kawan. Tentu itu adalah suasana liburan yang menyenangkan. Bukankah menurutmu juga begitu?

Tak terasa jam telah menunjukkan pukul enam sore. Aku harus bersegera pulang. Eits... ternyata belum satupun buku ku dapat. Bergegas kupilih buku ang ingin ku bawa pulang dan... akhirnya, kutemukan juga. Tara... ini dia bukunya. The Perfect Muslimah: karangan Ahmad Rifa'i Rif'an dan Geliat Islam di Rusia: karangan M. Aji Surya.



Now, it's time to read.
Pikiran random lagi. Mudah-mudahan someday buku ku juga terpajang manis di toko-toko buku dan orang-orang membacanya. Who knows, right?

Padang, 24 Desember 2012

Selasa, 25 Desember 2012

Body Language: cermin akan sebuah perasaan

Teman... jika ada orang yang suka kepadamu apakah yang kau perhatikan?
1. Kata-katanya yang mampu membuat kau terbang kelangit ketujuh? atau
2. Bahasa tubuhnya? 

Hehe... jawab sendiri ya???

Tenang teman, ini bukanlah postingan tentang aku yang sedang galau dimabuk cinta. Tapi sedikit banyaknya tulisanku kali ini ada hubungannya dengan kalimat intro ku diatas.

Sudah-sudah... jangan berasumsi macam-macam dulu. Monggo dibaca tulisanku selanjutnya agar kau mampu menyimpulkan inti dari pembicaraanku.

one... two... three...
Ready?
Let's go! 

Bahasa tubuh... teramat mudah bagi kita ya membaca bahasa tubuh orang. Orang yang gerogi bakalan terlihat dari bahasa tubuhnya, marah, malu-malu dan bahkan jatuh cinta.
Sudah-sudah, kau jangan begitu teman. Sekali lagi ku tegaskan ini bukanlah postingan mengenai CINTA.

Nah, karena bahasa tubuh itu mampu mencerminkan perasaan yang terpendam dalam diri seseorang, maka dia berperan sangat penting sekali dalam berkomunikasi teman. Bahasa gaulnya kita mungkin menganal istilah body language untuk bahasa tubuh ini ya. Sekitar 55%* berhasilnya kita dalam berkomunikasi dipengaruhi oleh bahasa tubuh. Wah, besar juga presentasenya ya teman-teman? Mau tau kenapa bahasa tubuh memberikan pengaruh yang paling besar dalam berkomunikasai?


Pertama, karena bahasa tubuh adalah bahasa yang paling jujur. Bahasa yang tidak bisa bohong. Bahasa yang akan mencerminka perasaan seseorang yang sesungguhnya. 
Kedua, karena bahasa tubuh adalah bahasa yang sulit dimanipulasi. Misalnya, kita lagi marah, maka secara langsung wajah kita juga akan berupah menjadi geram dengan mata yang melotot penuh kesal. Nah,sungguh tidak mungkin dan sulit ya, kita merubah raut muka kita ketika lagi marah dengan tersenyum? So, karena itulah mengapa bahasa tubuh itu sangat penting dalam berkomunikasi. 

Teman, jika dibawa kepada konteks pembelajaran. Maka bahasa tubuh juga akan menempati posisi yang sangat penting. Mengapa? karena suksesnya kegiatan belajar mengajar itu juga dipengaruhi oleh bahasa tubuh sang pendidik. Nah, karena bahasa tubuh kita mencerminkan hal yang terpendam dalam diri kita. Maka kita harus mampu mengontrol emosi kita agar bahasa tubuh yang diterima oleh siswa mengenai kita adalah bahasa tubuh yang positif.

Misalnya begini teman. Sebagai manusia biasa tentu kita memiliki emosi-emosi berbeda setiap saatnya bukan? dan emosi-emosi kita itu akan tercermin melalu bahasa tubuh kita. Sebagai seorang gurupun kita tentu  begitu. Emosi kita akan berubah setiap saatnya. Siswa yang meribut ketika kita menerangkan pelajaran tentu juga bakalan mempengaruhi emosi kita. Kita bakalan menjadi kesal olehnya dan bentuk kekesalan kita itu akan terpancar dari bahasa tubuh kita. So, kesimpulannya apa? agar bahasa kita selalu diterima baik oleh siswa-siswa kita, kita harus mampu mengendalikan atau memanipulasi emosi kita. Sehingga ang diterima oleh siswa-siswa kita adalah bahasa tubuh yang positif.

* sumber data: materi presentasi dari seorang pemakalah disebuah workshop
**sumber gambar: http://aljazira-sport.com/wp-content/plugins/smart-youtube/emotions-faces-for-children-6119.jpg

Serpihan 2





Teman, kau tentu tahu bukan 3 amalan yang selalu mengalir pahalanya?
Yup... betul sekali.
Pertama, do’a anak yang sholeh,
Kedua, sedekah jahiriah,
Ketiga, ilmu yang bermanfaat.
***
Teman, izinkanlah aku bercerita mengenai  poin yang ketiga yaitu ilmu yang bermanfaat.

Cerita ini adalah mengenai guru SMA ku dulu. Awalnya, ku tak berniat untuk mempostingnya di sini. Tapi, setelah ku pertimbangkan ada baiknya bagiku untuk mempostingnya, dengan niat semata-mata hanya untuk menjadi pelajaran bagiku dan kita semua.

Beliau adalah guru Matematika di sekolahku  yang terkenal dengan kedatangnya yang lebih awal ke sekolah. Setengah jam sebelum bel masuk berbunyi Beliau telah berada di sekolah. Bahkan Beliau datang lebih awal dari penjaga sekolah, datang sebelum pagar sekolah dibuka. Dan tahukah kau teman betapa bersahajanya Beliau? Dia selalu naik angkot pergi kesekolah dan kemudian berjalan beberapa meter dari  pangkalan angkot menuju sekolah.

Dulu, waktu kelas 3 SMA, aku dan teman-temanku pernah les kerumah Bapak. Karena selain mengajar di sekolah, beliau  juga mengajar les dirumah. Karena pulang sekolah selepas zuhur maka kami (aku dan beberapa orang teman sekelasku) mendapat jatah belajar jam 2 dan terkadang jam 4 sore. Tak jarang, setiap kami mendapatkan jatah belajar jam 4 sore selalu kami temukan Bapak pulang dari Masjid melaksanakan shalat ashar berjama’ah.

Teman, ku rasa Kau pun tahu  betapa sulitnya pelajaran Matematika itu kan? Membuat rambutmu keriting dan dahimu berkerut. Tapi, entah mengapa kalau sudah Bapak yang menerangkan pelajaran, Matematika pun terasa begitu mudah dimengerti. Tak jarang kami pusing tujuh keliling dikarenakan soal-soal yang kami hadapi, dan bahkan  kami tidak bisa menjawabnya walaupun sudah didiskusikan bersama-sama. Namun,  sungguh sangat teramat mudah bagi sang Bapak menjawabnya. Ketika kami membutukhan berlembar-lembar kertas buram untuk menjawab satu soal dan tak menemukan jawaban yang tepat, maka beliau tak menggunakan selembar kertaspun untuk menemukan jawabannya. Bagaikan membalikkan telapak tangan atau mengedipkan mata mudahnya pelajaran Matematika bagi beliau.

Hm...
Teman, tidak hanya siswa-siswa SMA di sekolahku saja yang belajar sama beliau, namun siswa-siswa SMA lainnya pun juga les Matematika di tempat Bapak bahkan siswa-siswa dari SMA favorit di kotaku. Rumah beliau akan selalu padat mulai dari jam 2 sampai jam enam sore. Bahkan sampai jam 8 malampun masih ada siswa yang les dirumah beliau. Begitu padatnya agenda beliau, sang bapak tak pernah emsosi mengajar kami. Bahkan istimewanya lagi, setiap waktu shalat masuk, beliau selalu shalat tepat pada waktunya. Terkadang, jikalau tidak terlalu mendesak beliaupun pergi shalat ke masjid. Sebelum beliau pergi shalat, kami selalu diberi soal-soal. Setelah itu didiskusikan sekembalinya beliau dari masjid.

Tak hanya itu. Nampaknya sang bapak juga tak pernah sengaja menagih uang les kepada kami dengan cara mengingatkan kami untuk membayar uang les tiap bulannya. Tampak bagiku seolah-olah beliau berlelah-lelah mengajar bukanlah untuk mengharapkan uang dan pamrih. Namun agaknya kamipun tahu tentang kewajiban kami itu. Walaupun Bapak tak pernah menagih uang les kepada kami, kami tetap membayarkanya disetiap bulannya. 

Begitulah teman cerita mengenai guru Matematikaku. Diantara semua kebaikan yang terdapat pada diri sang Bapak ada dua hal yang mencuri perhatianku. Pertama, beliau selalu ikhlas dan tak pernah marah dalam mengajar. Kedua, beliau selalu mengusahakan shalat tepat pada waktunya.

Hingga suatu hari, pada saat-saat yang tidak diduga, seminggu setelah UAN. Aku mendapat berita bahwa bapak telah berpulang kepangkuan Nya. Tanpa pikir panjang, kami siswa beliau pergi kerumah bapak untuk menjenguk. Dan tahukah kau kawan, siapakah imamnya? ANAK beliau... dan tahukah kau... masjid (yang ukurannya yang besar itu) penuh oleh para siswa yang men-shalati beliau. Tak ada sedikitpun space yang tersisa. Ratusan... ya... lebih dari seratus orang yang men-shalati dan mengantarkan beliau ke pemakaman... SUBHANALLAH... betapa indah sekali akhir dari perjalanan hidup beliau. 

Sekarang, Beliau telah pergi untuk selamanya. Sungguh buah yang manis atas segala keikhlasannya dalam mengajar telah dipetiknya. Terimakasih Bapak, tak hanya belajar tentang Matematika yang ku dapat dari engkau. Namun tak kalah pentingya engkau telah mengajarkan akan arti keikhlasan dan kecintaan terhadap Sang pemilik ilmu. 
***
sumber gambar:  http://www.distancelearning.com/wp-content/uploads/2012/11/teachers.jpg

Senin, 17 Desember 2012

Bake n Bake

Woke up in the middle of the night and suddenly found something delicious to be eaten. Hm...Yummy. No need to be asked who made this cake. No one else unless my Sister.  

At least she left me some pictures of her cake. From those pictures I know how the procedure she made it.

Let's check this out :)
                                                                                   1. Adonan dipanggang.













2. Bagian luar adonan yang sudah di lukis













3. Oleskan selai kacang dibagian dalam adonan. Tergantung selera, bisa juga selai cokelat, bluberry, atau keseluruan selai dicampur. Hm... pasti enak tuh.













4. Adonan yang sudah di olesi selai kemudian digulung.














5. Tara... Kue buatan Uni jadi deh :)















Alhamdulillah kuenya enak. hehe...



Lock



Do you ever feel like breaking down?
Do you ever feel out of place?
Like somehow you just don't belong
And no one understands you

Do you ever wanna run away?
Do you lock yourself in your room?
With the radio on, turned up so loud
That no one hears you screaming
...........

Lagupun berlanjut dan fikiranku melayang entah kemana.

The song represent my feeling banget.

Entahlah kawan. Udah dua kesempatan berkarir telah ku lewatkan. Lagi-lagi aku harus mengikuti kehendak orang tuaku. Ya, sepertinya aku bukanlah tipe-tipe pemberontak yang bisa mengatakan YA kalau itu sesuai dengan apa yang ku inginkan dan TIDAK jikalau tidak sesuai dengan keinginanku. Ku rasa pekerjaan tersebut terbilang cukuplah untuk membiayai kebutuhan hidupku yang single ini. But, I can't say anything if my parent already say NO. Yup, it means NO. There is no another NO in their dictionary if they forbid me of something.

Ya, akupun sadar itu, bahwa ridha Allah terletak pada ridha kedua orangtuaku. Mungkin dengan diterimanya aku ditempat yang ku anggap bisa menjawab mimpi-mimpiku selanjutnya adalah pilihan yang terbaik. Namun, belum tentu yang terbaik bagiku baik juga bagi mereka. Dan aku percaya itu bahwa ridhaNya terletak pada ridha mereka. Dengan alasan itulah aku masih bertahan dan bisa menerima apa yang ditetapkan atasku.

Segala sesuatu itu tidak hanyadicerna melaui kamus kita namun juga kamus orang-oarang disekeliling kita.

Sumber gambar:https://thelegacybuilder.files.wordpress.com/2012/05/alone.jpg

Sabtu, 15 Desember 2012

It's All About Love


Ehm...
Sebenarnya agak sensitif neh bahas topik yang satu ini. Tapi gak apa-apa juga sih biar jadi bahan renungan dan pelajaran bagiku dan kita semua. 


Masih terkait dengan keberangkatanku ke Diniyah Putri (DP). Di hari-hari pertama aku berada disana sungguh banyak sekali sentilan-sentilan pertanyaan yang mereka ajukan kepadaku. Maklumlah, sesama cewek emang begitu. Akupun tak terlalu merasa risih dengn pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan tersebut karena genre kami sama. Alias sama-sama perempuan.

Salah satu pertanyaan yang sengaja ku angkatkan kesini di tulisan ku ini dan salah satunya yang berkesan dalam ingatanku adalah mengenai "cinta".
Ehm... Ehm... Ehm... 
Ups, sorry ada yang batuk nih dengar kata-kata "Cinta"

Yups, itu aku yang lagi batuk. Hehehe. 
Bagaikan menelan batu ketika toipk tentang cinta itu mereka ajukan kepadaku. Dengan nanda penuh ingin tahu mereka berkata "kak, udah pernah gak jatuh cinta?"

Gubrak deh...
Ini pertanyaan atau apa sih?

Karena kupikir itu adalah pertanyaan umum maka dengan tegas ku jawab "pernah". Nah... setelah itu mulai deh aku bercerita.

"Sebagai manusia normal yang di anugerahi perasaan cinta tentu kakak juga pernah jatuh cinta. Namun jatuh cinta disini dalam konteks apa dulu. Kakak pernah baca sebuah buku, kalau gak salah buku Jalan Cinta Para Pejuang, disana dijelaskan mengenai persaan cinta Ali sama Fatimah anaknya Rasulullah. Sungguh Ali dan Fatimah adalah manusia mulia yang menempatkan cinta pada tempatnya. Ali yang sahabat Rasulullah itu tengah memendam cinta kepada Fatimah semenjak lama. Dan kakak rasa adek-adek juga tahu, bahwa Ali tak pernah mengungkapkan perasaan cintanya kepada Fatimah. Hingga pada suatu hari ada beberapa sahabat datang kepada Rasulullah ingin meminang dan memperistri Fatimah. Dan Ali hanya beranggapan bahwa memang lelaki, sahabat-sahabat Rasulullah yang datang kepada Rasulullah itu adalah lelaki baik-baik yang tepat untuk Fatimah. Namu apa? sungguh diluar dugaan. Jikalau Allah telah menetapkan jalan Cinta kita, semuanya terasa indah pada waktunya. Yup, itulah bentuk kekusaan Allah. Akhirnya Cinta Ali dan Fatimah bertemu dalam sebuah ikatan pernikahan. Mereka adalah contoh bagi kakak dan kita semua sebagai bentuk sebaik-baiknya orang yang tengah jatuh Cinta."

Sudah... kurasa terjawab sudah pertanyaan mereka atas diriku "pernahkah kakak jatuh cinta?"

Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXjhQ79HbJqjuca4JaNLkIVNn9QbjcXWTMYGRQP-CV1F8ydYygaFwaDj0Ru1nRKbhut6OnC_oCg-GgZ0rO58QyWy2zFtpYsUyMS10-nlgZ_G7de5TXKZRbly7MfXHCQHyoHjU7cprUxR6d/s1600/Cloud-Endless-Love-Wallpaper.jpg.


Sabtu, 01 Desember 2012

Pesan Petir



Rasanya bagaikan petir menyambar mengenai kulitku di siang bolong tanpa hujan, tanpa mendung ataupun awan kelam. Telingaku memerah mendengar perkataan seorang guru yang melaporkan sebuah komplain dari beberapa orang murid kepadaku. Mereka mengatakan bahwa aku “pemarah.”

What?

Pemarah?

Seumur-umur aku rasanya tak pernah marah kepada peserta didikku, tak pernah menghardik mereka. Tapi kali ini aku mendapatkan laporan seperti itu. Ku putar lagi memoriku kepada kejadian dua minggu lalu yang kurasa menjadi alsan mengapa siswa-siswa itu (hanya beberapa siswa) mengatakanku pemarah. Tepat, waktu itu ada seorang siswa yang kelakuannya menyakitkan hati dan mengganggu teman-temannya ketika belajar. Lalu aku memberi nasehat dengan nada menasehati bukan memaki. Tapi, sang siswa menganggap itu adalah sebuah pertanda kemarahanku. Dan langsung mengecap aku “pemarah.”

Ternyata pesan yang kita sampaikan tidak selalu diterima positif oleh orang yang menerima pesan. So, how? Agar pesan itu bisa diterima dengan baik oleh sang penerima pesan? *garuk-garuk kepala. Bukan karena kepalaku lagi gatal.

Di satu sisi, kurasa aku tak ingin terlalu memikirkan ini karena hanya akan membuat energiku terbuang sia-sia. Adapun menuliskannya di blog ini adalah sebuah upaya bagiku untuk mengikis rasa kesal itu, karena di bilang pemarah oleh beberapa siswa. Kedua, kurasa ini adalah tantangan bagiku sebagai guru yang harus kucarikan jalan keluarnya. Bisa jadi aku belum memahami karakter siswa-siswaku secara lebih dalam. Dan momen ini adalah sebuah kesempatan ataupunlebih tepatnya pelajaran bagiku untuk menjadi lebih baik.

Sempat juga aku berkesimpulan, mengajar siswa SD membuaku “sakit jiwa.” Membuatku lebih banyak mengurut-urut dada. Merasa bahwa jiwaku tidak disana. Profesi yang tepat bagiku bukan disini. Namun, aku memiliki sebuah tekat bahwa aku ingin menjadi seorang pakar (ahli) dibidang pendidikan, khususnya pendidikan untuk anak-anak (young learner). Sehingga pada akhirnya aku mampu menaklukkan semua tingkah nakal mereka. Dan menjadikan aku guru yang selalu disenangi oleh siswa.

Terima kasih siswa-siswaku, karena pesan petir yang aku terima dari kalian itu aku memiliki sebuah mimpi yang besar untuk kehidupanku dimasa depan.

Kamis, 22 November 2012

A Gift

Hari pertama aku tiba di sana sungguh hangat sekali sambutan mereka. Kami seolah-olah orang yang saling kenal yang tidak pernah bertemu selama 5 tahun. Padahal ini adalah kali pertamanya aku kesana dan kami tak pernah saling kenal sebelumnya. 

Sungguh, berada disana adalah hal yang sangat ku inginkan. Ya, tempat itu adalah Diniyah Putri Padang Panjang. Pondok Pesantren Putri tertua di Sumatera Barat, atau bahkan di dunia. Bagaimana tidak, bagiku yang tidak pernah mengecap pendidikan Agama di Pondok pesantren ataupun MAN, adalah sebua "hadiah" yang luar biasa yang diberikan Allah kepadaku untuk bisa berada disana. 

Dulu, aku pernah menyesal masuk SMA dan protes kepada ibuku. Mengapa ibu tidak memasukkanku ke sekolah agama seperti MAN atau Pesantren?. Itulah bentuk protes dan pertanyaan yang ku tanyakan kepada Ibu. Bukan, ibu bukannya tak ingin menyekolahkan kami ke pesantren atau MAN. Hanya saja kondisi keuangan keluarga kami tidak bershabat dengan kami saat itu, sehingga tidak memungkinkan kami untuk bersekolah di sana. Cara paling cerdas Ibuku adalah dengan memasukkan kami kesekolah dekat rumah yang tak memerlukan ongkos untuk pergi ke sekolah. cukup hanya berjalan kaki dengan 1,5 km untuk pergi dan 1,5 km untuk pulang sekolah.

Tapi, sekarang aku berada di sini. Di Diniyah Putri Padang Panjang. Sebuah pondok pesantren putri yang tentunya juga menjadi dambaanku untuk bersekolah di sana. Namun keberadaanku di sini bukanlah sebagai pelajar namun sebagai pengajar.

Subhanallah.
Tuhan. Nikmatmu manakah yang pantas ku dustakan?
Dulu aku merengek kepda ibu unutuk bisa bersekolah di sekolah agama. sekarang engkau memberikanku haidah yang sangat besar. Sebagai guru undangan untuk mengajar di sekolah agama.

Terimakasih Ya Rabb atas nikmatmu.


Rabu, 17 Oktober 2012

Keep Writing

Pa kabar teman?
Barusan aku cek di webnya OSD. Ternyata tulisanku belum lulus final. Never mind :) masuk semi finalpun bagiku sudah merupakan sebuah prestasi bagi seorang pemula sepertiku.

Selamat ya untuk teman-teman yang tulisannya masuk final :)

Link nya dibawah ini :)

http://okisetianadewi.co.id/id/artikel/pengumuman/262-finalis-lomba-menulis-setiap-yang-bernyawa-akan-kembali-kepadanya

Rabu, 03 Oktober 2012

Alampun Menangis Atas Kepergian Anak Manusia



Padang, 2011

Pagi ini, di kotaku matahari mulai menampakkan sinarnya yang berwarna kuning keemasan. Awalnya, dia agak mengintip malu-malu ke permukaan bumi, kemudian dia memberanikan dirinya keluar dari peraduannya. Seolah-olah tampak bagiku bahwa dia enggan bangun untuk menyinari bumi. Kalau saja bukan karena tugasnya, dia gak bakalan terbit menyinari bumi. Dia akan memilih untuk beristirahat di peraduannya dan mengatakan kepada malam untuk selalu menyelimuti bumi dengan kegelapan. Atau… dia akan menyuruh awan untuk menutupi sinarnya dan berharap ia akan menurunkan hujan sehingga dia bisa tidur dengan nyenyak di balik tebalnya onggokan awan.
Nah itu dia. Sekarang sang matahari sudah menampakkan keseluruhan badannya di ufuk timur. Sekarang dia sedang berdekatan dengan bukit-bukit yang menjulang tinggi ke langit, dan dia berada diatas bukit-bukit itu. “Hai, Selamat Pagi”.  Dia seolah-olah menyapaku.
***
Geraaah...
Tengah hari begini matahari semakin bersemangat melaksanakan tugasnya. Dia membuatku kepanasan. Tak apa... aku senang dengan cuaca cerah begini. Kemudain terdengar kumandang azan zuhur di masjid kampus ku. Dan matahari semakin bersinar dengan terikknya. Dia seolah-olah menyapaku lagi dengan panas teriknya dan mengatakan "shalat…ayo shalat zuhur”.
Setelah selesai shalat zuhur. Ku tak meraskan lagi panas matahari yang terik. Kemudian ku lihat ke atas, matahari tak tampak lagi. Hanya ada ongokan-onggokan awan kelabu yang membuat siang itu menjadi gelap bak senja hari. Huft...Sepertinya dia enggan untuk menyinari bumi… kurasa begitu… ah, entahlah... matahari kau  pengecut (gumamku dalam hati).
Ya, sudahlah, dengan berat hati, kulangkahkan kaki ku ke jurusn walaupun tanpa ditemani panasnya terik matahari. Kalau saja bukan karena diskusi, aku lebih memilih pulang dan mengerjakan tugas-tugas kuliah yang segunung banyaknya.
 Di perjalananku menuju jurusan, rintik-rintik air hujan mulai jatuh membasahi bumi dan mengenai pipiku. Huft... matahari kau pengecut... kau biarkan hujan mengguyuri bumi, dasar pengecut. (gerutuku dalam hati). 
Tik… tik…tik… gerimis pun mengundang hujan… 
***
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCSFVPDk2oYpYkdC878V9TaOYXlF6_P17Kvg9OFO7-qQHQ3zyv7EZvO2vnF5qIGqRbERZmO064KSj27zWsGNj5l0IcRiK9TDxlT-pNx2600pyUUSNN0Asq-XFh-CResYm6_YnfVJ7V_Es/s1600/free_rain_wallpapers_photos8.jpg 
Sesampainya dijurusan. Tepatnya di balai-balai depan jurusan teman-teman kelompokku sudah pada ngumpul. Diskusipun berjalan dengan lancar walaupun hujan turun semakin deras.
Kemudian….
“innalillahi wainna ilahiraji’un”
 Kata salah seorang teman  kelompokku yang waktu itu tengah mendapatkan SMS dari temannya. Ada apa? Kataku, Anti dan Febi menimpali. Ibu Kiki teman angkatan kita meninggal. Kata temanku itu. Kapan? (Kataku)… habis zuhur tadi.  (suasana pun menjadi haru dan ada beberapa teman yang menangis). Begitu juga dengan suasana hatiku, hatiku kelabu seperti cuaca hari ini. Sontak ku terdiam. Seolah-olah tidak percaya dengan berita yang di sampaikan temanku itu. Ku coba menahan air mata yang hendak keluar. Ku tahan, dan terus ku tahan. Akhirnya dadaku sesak, dan ku tak mampu lagi menyeka air mataku yang turun yang sama lebatnya dengan hujan siang ini.
Dalam diam tangisku, ku dongkakkan kepalaku ke atas langit. Mencoba melihat adakah matahari yang mencoba mengintip di balik awan yang kelabu. Ah… nihil… yang ku temukan hanyalah onggokan-onggokan awan kelabu yang masih menutupi matahari. Matahari, ma’afkan aku, ma’afkan aku yang telah berburuk sangka kepada mu. Kau bukanlah si pengecut, kau adalah matahari yang sangat pemberani dan berjiwa besar, kau hanya mencoba mengalah karena awan hitam yang tak sanggup menahan  tangisnya, bukan? (ucapku di dalam hati ketika derasnya air mata yang bercucuran membasahi pipi). 
Ya Allah…  hati ku jadi bergetar… ku jadi ingat ibu ku… ah… andaikan itu aku, rasanya aku gak bakalan sanggup. Disaat sedang kuliah, tiba ada telpon dari rumah yang mengabarkan ibunya telah berpulang. Ah… sungguh aku tak sanggup ya Allah.
 Mungkin ini adalah ujian buat temanku ini, Allah lagi menguji nya. Ya… setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita yang hidup di dunia ini tentu suatu saat nanti akan merasakan kematian. “Kullu nafsin dzaiqotul maut”. Mungkin ini juga peringatan untuk kita semua agar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orangtua.
“Kita akan merasakan seberapa berharganya seseorang bagi diri kita setelah dia meninggalkan kita ”.
Masa tugas ibu temanku tersebut sudah habis. Sekarang dia kembali ke pada Tuhan yang telah menciptakannya. Saat itu juga, ketia ruh dicabut dari raga hilang sudah kesempatan untuk beramal. Tak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik. Semua pintu untuk beramal sudah ditutup. Hanya do’a anak yang saleh dan saleha yang mampu menolongnya di alam barzakh sana. Mengenai hal ini aku jadi teringat dengan sabda Rasulullah yang berbunyi:
“Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara. Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan do’a anak yang saleh” (HR. Muslim)
Ah… air mataku semakin bercucuran. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku saat itu. Apakah aku sudah menjadi anak yang saleh? Sehingga do’aku bisa menjadi penyejuk bagi orangtuaku ketika dialam barzakh sana? Apakah aku siap dengan ujian Allah yang tentunya juga akan meninmpaku suatu saat nanti? Ketika Allah berkehendak mengambil nyawa ayah dan ibuku? Apakah kami anak-anak mereka mampu melaksanakan tugas kami sebagai anak untuk men-shalatkan mereka ketika mereka telah tiada?
Hitam… sungguh hitam kelam hari di siang ini. Alam seolah-olah menangis ketika mendengarkan berita bahwa seorang anak manusia, seorang ibu dari temanku telah berpulang menghadap Rabb-Nya.
Pikiran ku melayang lagi. Aku… ketika nyawaku sudah dicabut, akankah alam semesta ini juga akan turut menangisi kepergianku? Ataukah jagad raya ini bersorak gembira karena kepergianku? Astaghfirullahaladziim.
Aku jadi teringat akan sebuah ungkapan yang lebih kurang isinya begini: ketika engkau lahir, kau menangis. Sedangkan orang disekelilingmu tersenyum. Ketika kau meninggal kau tersenyum. Sedangkan orang disekelilingmu menangis. Subhanallah…
“Ya, Allah, jadikanlah hamba ketika hamba tiada orang di sekeliling hamba menagisi kepergian hamba. Sedangkan hamba tersenyum melihat indahnya pertemuan dengan-Mu”
Semua Hening…
Sendu…
Hanya air mata yang menetes deras sederas hujan siang itu.
***
Padang, 2012
“Pagi!!”… sapa sang mentari kepada ku ketika ku buka jendela kamar. Matahari, dia selalu bersemangat melaksanakan tugasnya. Aku jadi iri. Puasa-puasa begini dia masih tetap semangat. Ah… malu, malu sekali kalau aku juga gak sesemangat matahari. Sudah, dua puluh hari ku lewati puasa Ramadhan tahun ini. Selalu ku temui bahwa matahari melaksanakan kewajibannya, yaitu menyinari bumi dengan penuh semangat. Tak pernah ku temui awan kelabu yang hendak menurunkan hujan menutupi wajahnya di pagi dan siang hari. Tak seperti tahun lalu, ketika matahari mengalah demi awan kelabu yang hendak menumpkahkan dukanya. Dia mengalah demi awan kelabu yang tak mampu membendung tangisnya ketika anak manusia, ibu dari temanku meninggal dunia.
Gak terasa sekarang sudah sepuluh terakhir Ramadhan. Tepatnya sepuluh hari menjelang akhir ramadhan. Siang ini aku tengah sibuk membantu ibu di dapur. Maklum, selama libur Ramadhan aku selalu menjadi asisten masak ibu.
Wah…ibu curang nih. Aku lagi sibuk-sibuknya kerja di dapur ibu malah asik nelpon di ruang tamu. Kataku di dalam hati ketika mendengar bunyi percakapan ibu di ruang tamu. Ah… ibu. Siapa yang nelpon bu? Tanyaku setelah ibu selesai nelpon. Itu kak El. Ooo… jawabku menimpali. Kak El adalah anak kakak Ayah. Nah lo, kenapa mata ibu memerah? Tanyaku lagi. Itu nenekmu, orang tua papa meninggal.
 Innalillahiwainnailahi raji’un.
Tak kuasa ku tahan tangisku. Selalu. Selalu begini, aku selalu menahan tangisku ketika ada orang di sekelilingku. Coba kalau aku tengah di kamar sendirian, tak ada istilah tangis yang di tahan. Lagi-lagi, kejadian setahun yang lalu terulang kembali. Matahari ditutupi oleh awan kelabu. Mataharipun mengalah ketika awan tak sanggup membendung tangisnya mendengar berita langit bahwa anak manusia, orangtua dari ayahku meninggal dunia.
Selama Ramadhan, tak pernah terjadi hujan di tengah hari. Sekarang, semua itu terjadi. Persis seperti kejadian tahun silam.
***
Alhamdulillah. Ucapku dalam hati usai nenek dimakamkan hari itu juga. Alhamdulillah ya Rabb. Beliau meninggalnya pada hari jum’at. Ya hari ini, ketika berita duka itu datang adalah hari jum’at. Insyaallah Husnul khatimah. Amiiin... Syukurku.
Wallahualam bhissawab…hanya Allah yang berhak menentukan. Adapun menurut Al-Imam Al –Albani, salah satu tanda husnul khatimah adalah: Meninggal pada malam atau siang hari jum’at. Seperti sabda Rasulullah S.A.W:
“Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi)
Fitnah kubur disini diartikan sebagai pertanyaan kubur. Pertanyaan yang di lontarkan malaikat ketika dialam kubur.
***
Hujan...
Bagiku hujan adalah sebuah pertanda bahwa Alam yang sedang menangis. Tak jarang kutemui, setiap ada berita duka, mengenai orang meninggal hari pasti selalu hujan. Bagiku, hujan adalah bukti bahwa Alam menangisi kepergian seorang hamba menju Rabb-Nya. Wallahu’alam.
Hari ini, aku banyak belajar. Merenung tentang hidupku. Merenung bahwa aku juga akan mengalami hal yang sama suatu saat nanti. Saat dimana aku tidak mengetahui kapan datangnya ajal. Hidupku, amal ibadahku masih jauh dari sempurna. Aku iri, melihat orang-orang yang dimudahkan Allah ketika akhir hayatnya. Berharap aku juga bisa seperti mereka suatu saat nanti, ketika aku menghadap Rabb-ku di penghujung usiaku. Berharap bahwa aku di tempatkan bersama dengan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah di akhirat nanti.
Berita duka bagiku adalah sebuah pelajaran yang hendak disampaikan oleh Allah kepada hambanya yang masih hidup. Sebuah peringatan bahwa hidup itu hanya sebentar. Sebuah peringatan bahwa aku, kita manusia untuk selalu ingat akan mati dan memepersiapkan pertemuan dengan Allah dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Sebuah peringatan bahwa tujuan hidup di dunia ini hanyalah sebagai hamba yang selalu menghambakan diri kepada Allah.
Aku, di akhir hayatku kelak berharap satu kata yang terlontar dari mulutku yaitu kalimat: lailla haillallah. Amiin. Tentu kita semua juga mempunyai harapan yang sama. Semoga Allah memperkenankan kita berucap kalimat lailla haillallah di akhir hayat kita. Amiiin.
Terimakasih ya Allah, engkau telah memberi hamba pelajaran melalui kematian.

*tulisan ini diikut sertakan dalam lomba menulis 
"Setiap yang bernyawa pasti mati-OSD" 


**Sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/_8H0ken3wwtE/TCHLLcpJg7I/AAAAAAAAUDo/KqyftUK3UzI  /s1600/free_rain_wallpapers_photos8.jpg