Tampilkan postingan dengan label Pesan Petir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Petir. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2012

It's All About Love


Ehm...
Sebenarnya agak sensitif neh bahas topik yang satu ini. Tapi gak apa-apa juga sih biar jadi bahan renungan dan pelajaran bagiku dan kita semua. 


Masih terkait dengan keberangkatanku ke Diniyah Putri (DP). Di hari-hari pertama aku berada disana sungguh banyak sekali sentilan-sentilan pertanyaan yang mereka ajukan kepadaku. Maklumlah, sesama cewek emang begitu. Akupun tak terlalu merasa risih dengn pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan tersebut karena genre kami sama. Alias sama-sama perempuan.

Salah satu pertanyaan yang sengaja ku angkatkan kesini di tulisan ku ini dan salah satunya yang berkesan dalam ingatanku adalah mengenai "cinta".
Ehm... Ehm... Ehm... 
Ups, sorry ada yang batuk nih dengar kata-kata "Cinta"

Yups, itu aku yang lagi batuk. Hehehe. 
Bagaikan menelan batu ketika toipk tentang cinta itu mereka ajukan kepadaku. Dengan nanda penuh ingin tahu mereka berkata "kak, udah pernah gak jatuh cinta?"

Gubrak deh...
Ini pertanyaan atau apa sih?

Karena kupikir itu adalah pertanyaan umum maka dengan tegas ku jawab "pernah". Nah... setelah itu mulai deh aku bercerita.

"Sebagai manusia normal yang di anugerahi perasaan cinta tentu kakak juga pernah jatuh cinta. Namun jatuh cinta disini dalam konteks apa dulu. Kakak pernah baca sebuah buku, kalau gak salah buku Jalan Cinta Para Pejuang, disana dijelaskan mengenai persaan cinta Ali sama Fatimah anaknya Rasulullah. Sungguh Ali dan Fatimah adalah manusia mulia yang menempatkan cinta pada tempatnya. Ali yang sahabat Rasulullah itu tengah memendam cinta kepada Fatimah semenjak lama. Dan kakak rasa adek-adek juga tahu, bahwa Ali tak pernah mengungkapkan perasaan cintanya kepada Fatimah. Hingga pada suatu hari ada beberapa sahabat datang kepada Rasulullah ingin meminang dan memperistri Fatimah. Dan Ali hanya beranggapan bahwa memang lelaki, sahabat-sahabat Rasulullah yang datang kepada Rasulullah itu adalah lelaki baik-baik yang tepat untuk Fatimah. Namu apa? sungguh diluar dugaan. Jikalau Allah telah menetapkan jalan Cinta kita, semuanya terasa indah pada waktunya. Yup, itulah bentuk kekusaan Allah. Akhirnya Cinta Ali dan Fatimah bertemu dalam sebuah ikatan pernikahan. Mereka adalah contoh bagi kakak dan kita semua sebagai bentuk sebaik-baiknya orang yang tengah jatuh Cinta."

Sudah... kurasa terjawab sudah pertanyaan mereka atas diriku "pernahkah kakak jatuh cinta?"

Sumber gambar: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgXjhQ79HbJqjuca4JaNLkIVNn9QbjcXWTMYGRQP-CV1F8ydYygaFwaDj0Ru1nRKbhut6OnC_oCg-GgZ0rO58QyWy2zFtpYsUyMS10-nlgZ_G7de5TXKZRbly7MfXHCQHyoHjU7cprUxR6d/s1600/Cloud-Endless-Love-Wallpaper.jpg.


Sabtu, 01 Desember 2012

Pesan Petir



Rasanya bagaikan petir menyambar mengenai kulitku di siang bolong tanpa hujan, tanpa mendung ataupun awan kelam. Telingaku memerah mendengar perkataan seorang guru yang melaporkan sebuah komplain dari beberapa orang murid kepadaku. Mereka mengatakan bahwa aku “pemarah.”

What?

Pemarah?

Seumur-umur aku rasanya tak pernah marah kepada peserta didikku, tak pernah menghardik mereka. Tapi kali ini aku mendapatkan laporan seperti itu. Ku putar lagi memoriku kepada kejadian dua minggu lalu yang kurasa menjadi alsan mengapa siswa-siswa itu (hanya beberapa siswa) mengatakanku pemarah. Tepat, waktu itu ada seorang siswa yang kelakuannya menyakitkan hati dan mengganggu teman-temannya ketika belajar. Lalu aku memberi nasehat dengan nada menasehati bukan memaki. Tapi, sang siswa menganggap itu adalah sebuah pertanda kemarahanku. Dan langsung mengecap aku “pemarah.”

Ternyata pesan yang kita sampaikan tidak selalu diterima positif oleh orang yang menerima pesan. So, how? Agar pesan itu bisa diterima dengan baik oleh sang penerima pesan? *garuk-garuk kepala. Bukan karena kepalaku lagi gatal.

Di satu sisi, kurasa aku tak ingin terlalu memikirkan ini karena hanya akan membuat energiku terbuang sia-sia. Adapun menuliskannya di blog ini adalah sebuah upaya bagiku untuk mengikis rasa kesal itu, karena di bilang pemarah oleh beberapa siswa. Kedua, kurasa ini adalah tantangan bagiku sebagai guru yang harus kucarikan jalan keluarnya. Bisa jadi aku belum memahami karakter siswa-siswaku secara lebih dalam. Dan momen ini adalah sebuah kesempatan ataupunlebih tepatnya pelajaran bagiku untuk menjadi lebih baik.

Sempat juga aku berkesimpulan, mengajar siswa SD membuaku “sakit jiwa.” Membuatku lebih banyak mengurut-urut dada. Merasa bahwa jiwaku tidak disana. Profesi yang tepat bagiku bukan disini. Namun, aku memiliki sebuah tekat bahwa aku ingin menjadi seorang pakar (ahli) dibidang pendidikan, khususnya pendidikan untuk anak-anak (young learner). Sehingga pada akhirnya aku mampu menaklukkan semua tingkah nakal mereka. Dan menjadikan aku guru yang selalu disenangi oleh siswa.

Terima kasih siswa-siswaku, karena pesan petir yang aku terima dari kalian itu aku memiliki sebuah mimpi yang besar untuk kehidupanku dimasa depan.