Senin, 06 Februari 2012

Hukum Aksi-Reaksi

Percaya dengan hukum aksi reaksi??
Berdasarkan hukum aksi reaksi jika kita memberikan gaya (aksi) kepada sebuah benda maka benda tersebut juga akan memberikan reaksi kepada kita. Ah… kalau gak salah ini hukum Newton III ya?
Nah… pertanyaannya… Apakah ketika kita memberikan aksi positif kita akan selalu mendapatkan reaksi yang positif pula?? Kurasa tidak…
Yup, tepatnya dalam postingan kali ini aku akan membahas menganai hukum aksi dan reaksi ini. Ada pada suatu kondisi aksi yang kita berikan tidak memberikan reaksi yang begitu signifikan. Atau malah bertolak belakang denganaksi yang kita berikan. Ini mungkin (50-50) hanyalah analisis keliru atau aneh dariku.
Yah… contoh simple aja. Ketika seseorang melakukan kebaikan kepada orang lain belum tentu hal tersebut direspon dengan kebaikan juga, bisa jadi dengan keburukan, right? Contohnya aja Rasulullah, ketika dia selalu melakukan kebaikan, menjalin hubungan baik dengan orang-orang dizamannya masih ada aja yang meludahi belau, melempari beliau dengan kotoran unta ketika beliau melakukan shalat.
Gimana??
Adakan?? Beberapa event diamana reaksi yang kita dapatkan tidak sepadan dengan aksi yang kita berikan. Mungkin disinilah saatnya dipertanyakan kesabaran, serta keikhlasan, right?
Disinilah kita dituntut untuk lebih ekstra sabar dan ekstra ikhlas dalam berbuat. Jangan selalu berharap aksi yang kita berikan akan selalu sepadan dengan reaksi yang kita terima.



Motivasi Menulis

Tik…tik…tik…
Hanya bunyi gemericik air hujan yang terdengar jatuh diatap ruamahku. Barusan hujan deras berhenti sudah. Yang tinggal hanya bekas-bekas hujan yang menggenangi got-got atau menggenang di jalan.

Syukurlah, hari ini hujan turun. Salah satu pekerjaanku menjadi terbantu, yaitu menyiram bunga dipekarangan rumah. Mungkin besok pagi ketikaku buka jendela dan ku intip bunga-bunga itu mereka akan terlihat lebih bugar seraya mengucapkan selamat pagi padaku. 

 

  

Dimalam yang sunyi ini, ketika semua orang telah hanyut dalam mimpi mereka mataku belum juga terpicingkan. Sesekali hanya suara kodok bersahut-sahutan yang menemaniku dan mengisi kesunyian malam. Setidaknya dengan bunyiansuara mereka aku tidak merasa kesepian.
Pikiranku melayang, terbang kesana kemari. Hingga akhirnya pikiranku terfokus kepada  sebuah topik pembahasan yang ku buat sendiri. “Kekuatan Sebuah Tulisan”.
Teringat olehku, begitu banyaknya orang-orang pintar yang menjadikan menulis sebagai sebuah kebiasaan mereka. Ada sebuah kutipan dari Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni dalam bukunya “Berteduhlah ditaman Hati”, beliau mengatakan:

“Setiap aku merasa bosan, aku menulis sehingga kejemuan hilang”


Selain itu, mantan presiden kita bapak Habibi juga menjadikan menulis sebagai sarana luapan rindunya terhadap sang istri. So,sudahkah kita membiasakan diri untuk menulis sahabat?? Bukankah dengan tulisan yang kita tulis bisa mencatat sebuah sejara, bisa mencatat sebuah memori yang mungkin bisa jadi pelajaran bagi kita pribadi dan orang lain?
Jujur, aku sendiri juga belum memaksimalkan kebiasaan menulis. So, mulai sekarang tidak ada excuse untuk tidak menulis.
Sebuah motivasi diri untuk selalu menulis,
Menulis yang menginspirasi diri pribadi dan orang lain, Amin.

* Gambar adalah dokumentasi pribadi penulis