Senin, 16 April 2012

HUJAN


Pagi ini, ku menyaksikan sebuah fenomena alam yang membuatku merenung akan siapa aku ini. Sebuah renungan itu memberikan kesimpulan akan kewajibanku seorang manusia, yang tak lebih hanyalah seorang hamba. Seorang hamba yang harus selalu tunduk dan patuh hanya kepadan-Nya semata. Sering kali aku lupa akan kewajibannku itu, sering, teramat sering. Namun, kali ini aku disentakkan lagi bahwa aku harus sadar bahwa predikatku hanaylah sebagai hamba dimatanya. Tak lebih!!
Mautaukah kau teman, fenomena alam apa yang baru ku saksikan.
HUJAN….
Ya, bagiku hujan yang diturnkan-Nya pagi ini membuatku takjub akan kekuasaannya.  Dia mengendalikan cuaca di tiga tempat yang berbeda yang ku lewati pagi ini. Sungguh tak ada ilmu yang lebih canggih dari pada ilmunya. Brangkali teknologi canggih yang dirancang manusiapun takkan mamupu menandingi teknologi kekuasaannya.
***
Padang-Pariaman adalah rute perjalananku pagi ini. Aku harus berpagi-pagi ke pariaman karena jadwal mengajarku pagi ini jam 7.10 WIB. Ketika berangkat dari rumah dengan diantarkan oleh ayahku, tak setitikpun air turun dari langit. Namun ketika kami sampai di Siteba, hujan tak tanggung-tanggungnya jatuh membasahi bumi. Air tawar…. Genangan air di badan jalan, tak tertampung lagi oleh selokan. Hujanpun semakin deras. Bahkan hujan semakin deras dan tak henti-hentinya sampai ku tiba di kabupaten Pariaman “Desa nan Sabaris”. 
Ketika mobil tranex memasuki kota pariaman... tak setitikpun hujan turun dari langit…. Langit mendung… tapi tak hujan… Subhanallah… siapakah yang mengendalikan semua ini kalau buka Allah Rabbku??
Penumpang didepanku, bergumam… “ disini gak hujan ya, padahal tadi hujan begitu deras sebelum kita memasuki daerah ini”. Aku hanya berdecak kagum dalam hati… 
Subhanallah… sungguh 99 sifat  itu hanya untukkmu ya Rabb…
Ya Allah… ya Rahman… ya Rahim… ….. ya Sabur…
Lantunan  Asmau’l Husna itu terngiang-ngiang di telingaku… menghantarkanku kepada sebuah titik yang paling dalam didasar hatiku dan mengantarkannya kembali ke otakku…. Ku hnayalah Hamba… tak lebih. Kewajibanku hanyalah menghambakan diri kepadanya… dalam setiap hembusan nafasku… sebelum ajal menjemputku.
Sering, teramat sering kulupa akan kewajibanku… Dia telah mengngatkanku melalui kekuasaannya yang telah ku saksikan pagi ini…. HUJAN.
***

Tidak ada komentar: