22.55 WIB
“Innaliliahi wainnailahi raji’un, Kak. Bang M**** dah
meninggal Kak”
Kontan jantungku
langsung layu seketika mendapatkan SMS dari adik ku. Ah… tak mungkin… itukan
tetangga depan rumahku. Gak mungkin dia meninggal. Memangnya dia sakit apa? Ah…
palingan adikku ini hanya bercanda saja.
“Ya, Allah… aku masih tidak percaya dengan SMS adikku
itu.”
Tubuhkupun gemetaran.
Masih tidak percaya dengan berita yang ku dapat. Kuberanikan diri tuk menelfon
ibuku. Tuuut…tuut… telfon pertamaku tak ada jawaban. Tuut… tuuut… begitupun
dengan telfonku yang kedua kalinya. Tuut…tuut… “assalamu’alaikum” sahut suara
daribalik telfon. “wa’alaikum salam… ibu… apa benar M**** meninggal bu?”
“iya, baru
beberapa jam ini”.
“apa aku harus
pulang besok ke padang bu”. Dengan perasaan yang tak jelas (anatara nyata dan
mimpi)
“Gak usah, jawab
ibu, bukannya besok kamu harus mengajar?”
“iya bu… Ya udah
bu…aku hanya ingin memastikan itu aja. Berarti aku gak usah pulang ya bu?”
(dengan suara parau)
“ya… gak usah
nak”
***
Ya Allah,
Sungguh hatiku kacau ketika membaca SMS adikku itu,
Dia M adalah temanku waktu kecil dulu,
Keluarga ku dan diapun juga udah begitu dekat,
Hatiku kacau,
Kacau,
Dengan bekalan amal apakah aku akan menghadapi ajalku
nanti?
Sungguh,
Untuk ajal, kau tak pernah pandang bulu,
Tua, muda, miskin, kaya, semua akan merasakannya,
Akankah aku mengahadapmu dalam kedaan baik?
Baik, ketika diri ini tidak bermaksat kepadamu,
Baik, ketika diri ini mematuhi perintahmu,
Baik, ketika diri ini menjadikan Rasulullah tauladan
No. 1,
Ya allah, sungguh telah kau titipkan pelajaran
kepadaku,
Mengenai berita duka ini,
Ya, Allah,
Jika ajalku datang, izinkanlah aku mengahapmu dalam
keadaan suci,
Bersih lahir dan batin,
Bersih dari segala noda dan dosa,
Sungguh, hasil akhir itulah yang sangat menentukan
nasibku di akhir nanti,
Ampunilah aku ya Rabb,
Amiin.
***
Buat Sahabatku,
Yang telah
meninggalkan kami di usia mu yang muda ini,
Selamat Jalan,
Semoga Allah memberikan Rahmatnya kepadamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar